Bedhol kayon
Namanya Aria Werkudara. Barusaja ia memusnahkan Rukmuka dan Rukmakala.
Terpaksa, ya.. terpaksa, ia membunuh dua raksasa itu, sebab perjalanannya di hutan Tikbrasara di kaki gunung Reksamuka bukan tanpa tujuan.
Ia wajib memenuhi perintah guru Danghyang Durna : mencari Tirta Pawitrasari...!
Kini ia sampai di tepi samudra dan melenguhkan keluh : " Dhuh..!, dimanakah lagi harus kucari air suci..?!".
Di kejauhan, sang Marbudengrat, ya sang Dewa Suksma Ruci memandangnya penuh iba.
"Apa jadinya bila ia tahu Tirta Pawitrasari itu tak pernah ada. Sungguh musykil air itu ditemui manusia...".
Maka menghampirilah Dewa Ruci ke hadapan Werkudara. Percakapan yang selanjutnya terjadi penuh kata dan ungkapan yang tak bisa selesai dengan satu-dua tafsir.
Padahal sebagai sebuah kisah, fragmen itu telah banyak terpacak di benak khalayak.
Ya.., semenjak R.Ng. Yasadipura I, pujangga Kasunanan Surakarta pada abad ke-18, menuliskan Dewa Ruci dan memasukkannya ke dalam Serat Cabolek, kisah itu menjadi bagian paling menarik dalam diskursus mistikisme jawa.
Bebagai dalang telah mewedarkannya dalam sajian wayang. Itupun dengan kemasan yang tidak selalu seragam. Di kalangan dalang, lakon Dewa Ruci memang bukan lakon sengkeran ( yang dikeramatkan ) seperti Sesaji Raja Suya. Tapi lakon itu membutuhkan kepiawaian dalang dalam memberikan wejangan.
Artinya dalang harus punya latar belakang keilmuan yang bersifat intrdisipliner..
Berbagai ilmuwan juga telah membedah Dewa Ruci sebagai kajian. Berupa-rupa tafsir muncul.
Seperti kata Prof. Dr. Soetarno ( Ketua STSI Solo ) pada sebuah sarasehan di Dalem Padmasustran Solo akhir Agustus lalu. "Sekian banyak penafsiran mengenai serat itu telah banyak dilakukan. Itu juga jadi pertanda ketinggian serat itu".
Tinarbuka
Ya. ya.. Serat Dewa Ruci atau dikenal dengan nama lainnya, Bimasuci atau Nawa Ruci, telah ditafsir dalam berbagai kelir pewayangan. Para juru tafsir keilmuanpun telah membedah dalam berbagai segi pandangan.
Lebih dari sekedar tafsir, intertekstualitas antara Serat Dewa Ruci dan serat-serat lain telah dikupas.
Banyak yang menyebutkan, isi serat ini memilik ekuivalensi dengan beberapa serat lain. Contohnya Suluk Syeh Malaya dan Kitab Duryat gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga.
Sumanto, peserta sarasehan yang mengaku begitu gandrung serat-serat kuno menyebut Serat Kamahayanikan yang menjadi salah satu blueprint ajaran Budhisme bersifat ekuivalen dengan Serat Dewa Ruci. Masih ada lagi lain, Serat Wiwaha Jarwa ( Serat Mintaraga ) juga dianggap memiliki kaitan dengan serat itu. Lalu ke muara manakah semua tafsir mengalir,,,?!
Ada muara tunggal dan banyak disepakati. Serat Dewa Ruci berbicara soal kesejatian manusia dalam mencari diri. Itu lalu diikuti oleh sebuah konklusi: serat itu bermuara pada konsepsi mistikisme Jawa "Manunggaling Kawula Gusti".
"Kisah Bima Suci itu ungkapan mistikisme Jawa..". kata Soetarno. "Perjalanan Bima hingga mencapai kemanunggalan dengan khaliknya dilalui melalui trap-trap mistikis Jawa. Susah payah ia menempuh sarengat, tarekat, hakikat dan makrifat...".
Bima menempuh sarengat ( syariat ) dengan hidup sejalan agama ( ibadah ) dan pengendalian nafsu.
Ia lalu meninggalkan hal-hal yang wadag menuju ke yang lebih subtil, batiniah dan mistik ketika memasuki tahap tarekat.
Kesadaran yang mendalam sang Bima sebagai abdillah ( abdi Tuhan ) adalah pencapaian hakikatnya.
Maka pada puncaknya, ia menikmati makrifat, ia telah jumbuh dengan Gustinya..
Pada perjalanan mistik itu, kehadiran Ruci yang dicerap lewat samadi ( takhanus ) sang Bima adalah simbolisasi keilahian. Pertemuan keduanya menjadi penyatuan Khalik dan mahluk...
Pada saat seperti itu, tiada lagi rahasia. Semua serbajelas, terang dan terbuka. dan ia berada di jagad walikan. Ia menjadi manusia transedental lewat sebuah proses asketik...
Bacalah apa yang ditulis dalam serat itu: "Byar katingal ngadhep Dewa Ruci, Wrekudhara sang wiku kawangwang, umancur katon cahyane, nuli wrung ing lor kidul, wetan kilen sampun kaeksi, nginggil miwah ing ngandhap, pan sampun kadulu, lawan andulu baskara, eca tyase miwah sang wiku kaeksi, aneng jagad walikan.."
Jadi Bima telah paham mata angin. Ia mampu membedakan semesta tempat dirinya berada.
Padahal sebelum pertemuannya dengan Dewa Ruci, ia hanyalah orang yang linglung di hutan dan tepi samudra. Tak tahu arah tujuan.
Katanya: "Awang-awang kang kula lampahi, uwung-uwung tebih tan kantenan, ulun saparan-parane, tan mulat ing lor kidul, wetan kulon datan udani, ngandhap nginggil ing ngarsa, kalawan ing pungkur, kawula boten uninga...".
Pada semesta yang tinarbuka itu, manusia Bima mendengar tanpa telinga dan melihat tanpa mata.
Berkatalah dewa Ruci: "Pandulu pamiyarsane, wis aneng ing sireku, pamyarsane sang suksma jati, iya tan lawan karna, ing pandulunipun, iya tan kalawan netra, karnanira netranira kang kinardi, anane aneng sira.."
Tugas Duniawi.
Kalau sudah begitu, sebagai manusia Bima sudah tidak butuh apa-apa. Ia bagai mati sajroning ngaurip atau urip sajroning mati. Sebagai manusia, Bima telah mencapai tataran sebagai insan kamil, manusia yang sempurna.
Seolah-olah ia ingin berkata: "Kalau begitu buat apa aku keluar ke haribaan dunia yang tak seindah dan senyaman garbamu, Ruci..?"
Lihat perkataan dalam serat itu: "Yen mekaten kulo boten mijil, sampun eca neng ngriki kewala, boten wonten sangsarane, tan niyat mangan turu, boten arip boten angelih, boten ngraos kangelan, boten ngeres linu, namung nikmat lan manpangat..".
Ia tak lagi merasa sengsara. Ia tak lagi butuh tidur, makan dan minum.Tak ada rasa sedih dan sakit.
Hanya kenikmatan yang indah dan keindahan yang nikmat semata.
Lupakah ia akan asal, akan sangkan paraning dumadi...?
Dan kalau sang Ruci tidak buru-buru mengingatkan, ia memang terus dalam suasana batiniah itu
"Kulo boten mijil, sampun eca neng ngriki kewala..", katanya. Hampir saja ia lupa bahwa dirinya punya tugas duniawi. Ia memiliki kewajiban berdarma untuk mamayu hayuning bawana. Sebab ia menggenggam reh-sareh kasatriyan, linakon winengku, pamurwaning jagad ( hukum ksatria yang harus dia junjung dan lakoni di dunia ).
"Eit...!, jangan hanya berasyik-masyuk dalam makrifat..!! Masuklah ke tubuhku Bima.., lalu keluarlah ke duniamu.., dunia manusiamu...!!".
Ada ironisme sekaligus kritik di situ. Sebab, tak sedikit kisah menuturkan orang-orang yang "mabuk ilahi" dan alpa pada duniawi. Bahkan tak sedikit orang yang merasa telah mencapai tahap makrifat tanpa tahu jalan menuju ke arahnya, seperti yang dilakoni Bima, adalah jejalinan rantai yang tak boleh satu mata rantaipun yang uwal.
Tancep kayon....
(Saroni Asikin, Halaman Sang Pamomong Harian Suara Merdeka Minggu, edisi 15 September 2002)

